entah berapa minggu aku lewatin hari tanpa kamu. sendiri, sepi, menyakitkan. sebelumnya aku sering dikecewain kamu dengan gak bisanya kamu temuin aku berkali-kali dan saat itu juga aku masih punya pengharapan yang tak berujung, yaitu hadirnya kamu di hari-hariku lagi. masih ada celah untuk kita becanda, berbagi tawa dan kekonyolan yang ada. sampai akhirnya semua itu hilang, mati dan tak bisa hidup lagi,
kenyataan, berkali-kali aku menyadarkan diri untuk menerimanya dan berjalan melewati kenyataan pahit ini tapi apa dayaku? segenap tenaga terkuras habis tak bersisa melupakanmu namun tak ada hasilnya. kamu lah yang terindah? terindah dari apa yang tidak bisa dibandingkan. tak ada yang lain untuk bisa disesali selain kepergianmu. ini titik kelemahanku yang memaksaku untuk selalu tegar mengenai realita ini.
kenapa sedih dan bahagia tidak bisa beriringan? cuma dua buah kata yang artinya saling berlawanan namun tak pernah bisa diterima manusia secara bersama-sama. ya, manusia pasti ingin selalu bahagia dan kalau boleh milih jangan ada kesedihan di hari-harinya. begitupun aku, aku hanya ingin melewati hari-hari duu bersamanya yang selalu bahagia. tersenyum sendiri membayangkan dulu, tapi sebaliknya aku tidak mau bahkan benci kalau harus memikirkan sekarang-sekarang ini yang nyaris membuat aku putus asa berkali-kali. apa aku belum ikhlas? tapi kenapa di setiap shalatku aku berdoa untuknya supaya kembali dan menjadi milikku lagi aku begitu pasrah memohon kepadaNya? aku serahkan apa-apa yang terjadi nanti denganNya. tapi di setiap aku benar-benar merasa sendiri dan berada dititik menyerah berulang kali, aku blm bisa menerima kalau dia benar-benar meninggalkanku sekarang, di pikiranku mengapa dia begitu jahat sampai bisa-bisanya meninggalkanku di saat cinta ini masih utuh? begitu terasa sakitnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar